BAB II

AKHLAQ

  1. A. Pengertian Ilmu Akhlaq

Akhlaq adalah masdar dari Khilqun yang mengandung segi-segi persesuaian dengan Khalqun serta erat hubungannya dengan Khaliq dan Makhluk. Dari sinilah asala perumusan ilmu akhlaq yang merupakan koleksi urgen yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara Makhluk dengan Khaliq dan antara Makhluk dengan Makhluk.

Ilmu Akhlaq adalah “Ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengan manusia kepada yang lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.”[1]

Jadi, ilmu akhlaq adalah ilmu yang mempersoalkan baik buruknya amal. Amal terdiri dari perkataan, perbuatan atau kombinasi keduanya dari segi lahir dan batin. Tujuan mempelajari ilmu akhlaq adalah supaya dapat terbiasa melakukan yang baik, indah, mulia, terpuji, serta menghindari yang buruk, jelek, hina dan tercela.

  1. B. Hukum Akhlaq

Suatu perbuatan manusia dapat dikenai hukum akhlaq atau hukum baik dan buruk apa bila perbuatan tersebut dilakukan dengan sengaja. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan tidak disengaja maka tidak dapat dihukumkan dengan baik atau buruk.

Perbuatan manusia itu ada yang timbul tiada dengan kehendak, seperti bernapas, detik jantung dan memicingkan mata dengan tiba-tiba waktu berpindah dari gelap ke cahaya, maka perbuatan ini tidak dapat memberi hukum “baik atau buruk”, dan bagi yang menjalankan tiada dapat kita sebut orang yang baik atau orang yang buruk, dan tidak dapat dituntut. Dan ada pula perbuatan yang timbul karena kehendak dan setelah dipikir masak-masak akan buah dan akibatnya, sebagaimana orang yang melihat pendirian rumah sakit yang dapat memberi manfaat kepada penduduknya dan meringankan penderitaan sesama, kemudian ia lalu bertindak mendirikan rumah sakit itu. Juga seperti orang yang bermaksud akan membunuh musuhnya, lalu memikirkan cara-caranya dengan pikiran yang tenang, kemudian ia melakukan apa yang ia kehendaki. Inilah perbuatan yang disebut perbuatan kehendak. Perbuatan yang dapat diberi hukum baik atau buruk.

Sebenarnya perbuatan itu dapat kita beri hukum baik atau buruk, karena dilihat dari niat yang melakukan perbuatan. Maka perbuatan yang disertai niat baik itu tentu baik meskipun mengakibatkan keburukan dan yang dengan niat buruk itu tetap buruk meskipun buahnya baik. Sebelum kita menetapkan hukum kepada sebuah perbuatan, maka hendaknya kita ketahui niat yang melakukannya. Adapun perbuatan itu pada dasarnya tidak baik dan tidak buruk. Membakar uang kertas yang berharga seribu pounds umpamanya, tidak dapat kita beri hukum baik dan buruk pada dasarnya, tetapi terkadang menjadi buruk bila pembakar itu hendak membalas dendam kepada pemiliknya, dan terkadang menjadi baik kalau uang itu diajukan sebagai suapan untuk seorang panglima atau hakim, dan dia berpendapat bahwa tidak ada jalan untuk menginsyafkan penyuapan kecuali dengan membakar uang kertas itu. Dan tidak sedikit perbuatan yang buruk terkadang dilakukan dengan maksud yang baik, maka ia tidak dapat diberi hukum buruk. Contohnya seperti apa yang pernah diceritakan bahwa bangsa Mesir kuno melempar seorang gadis jelita kesungai Nile agar airnya berpasang.[2]

Manusia itu tidak tercela atas perbuatan yang ia lakukan dengan niat baik meskipun buruk akibatnya, akan tetapi ia tercela bila ia sanggup menyelidiki sebelumnya akibat perbuatan itu, lalu tidak melakukannya. Tempat celaan disini adalah lengah memilih perbuatan, bukan niatnya melakukan kebaikan. Orang-orang Mesir kuno umpamanya tidak tercela atas perbuatannya melempar gadis di sungai Nile, karena niat mereka itu baik. Hanya tercela atas kepercayaan mereka bahwa sungai Nile itu tidak akan pasang airnya bila tidak diberikan seorang gadis, karena mereka mendasarkan keyakinannya atas dasar yang tidak kuat dan penyelidikan yang lemah. Demikian pula suatu bangsa yang mempermaklumkan perang lalu kalah, ia tidak tercela atas permakluman perang itu karena ia memandangnya baik. Hanya ia tercela bila tidak mempelajari soal itu lebih dahulu dari segala sudut, dan mengetahui buah hasilnya, lalu lengah menyelidiki akibat permakluman perang tersebut.

  1. C. Al-Akhlaqul Mahmudah

1) Al-Amanah = Jujur, dapat dipercaya.

Seorang Mukmin hendaknya berlaku amanat, jujur dengan segala anugerah Allah SWT kepada dirinya, menjaga anggota lahir dan anggota bathin dari segala ma’shiat, serta mengerjakan perintah-perintah Allah SWT secara komplet dan permanent, di mana pada akhirnya kawan dan lawan akan menghargai serta menaruh rasa hormat dan simpati yang baik.

2) Al-Aliefah = Disenangi.

Pandai mendudukkan sesuatu pada proporsi yang sebenarnya, bijaksana dalam sikap, perkataan dan perbuatan, niscaya pribadi akan disenangi oleh anggota masyarakat dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari.

3) Al-‘Afwu = Pemaaf.

Manusia tiada sunyi dari  khilaf dan salah. Maka apabila ada seseorang berbuat sesuatu terhadap kita yang mungkin karena khilaf atau salah, maka ma’afkanlah denga penuh keikhlasan.

4) Anie Satun = Manis Muka.

Menghadapi sikap orang yang menjemukan, mendengar berita fitnah yang memburukkan nama baik kita, sambutlah semuanya itu dengan manis muka.

Dengan muka yang manis, dengan senyum menghias bibir, lawan akan jatuh tersungkur mengaku kalah dan kita akan selalu digemari orang.

5) Al-Khairu = Kebaikan atau berbuat baik.

Tidak saja kita disuruh berbuat baik terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap hewan kita hendaknya berbuat baik, sebab setiap kebaikan walaupun kecil sekali, namun Allah SWT akan membalasnya juga kelak di akhirat, demikian janji-NYA.

6) Al-Khusyuu’ = Tekun sambil menundukkan diri.

Khusyuu’ adalah dalam perkataan, maksudnya dalam ibadat yang berpola perkataan, dibaca khusus kepada Allah Rabbul ‘alamin dengan tekun sambil menundukkan diri, terbitnya khusyuu’ dari dalam hati.

7) Adh-Dhiyaafah = Menghormati tamu.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

”Barang siapa yang percaya kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia menghormati tamunya; barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia menyambung silaturrahmi; barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia berkata benar atau hendaklah ia diam saja.”

Menghormati tamu adalah suatu ciri orang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT. Termasuk dalam arti menghormati tamu ialah menyediakan makan, minum dan tempat tidurnya jika ia bermalam di rumah kita selama tiga hari tiga malam.

8) Al-Khufraan = Suka memberi ma’af.

Firman Allah SWT :

Artinya    :  “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q. S. Ali-Imran : 159).

9) Al-Hayaa-u = Malu kalau diri tercela.

Perasaan malu di dalam hati dikala akan melanggar larangan agama, malu kepada Tuhan bahwa jika ia mengerjakan kekejian akan mendapat siksa yang pedih. Perasaan ini menjadi pembimbing jalan menuju keselamatan hidup, perintis mencapai kebenaran dan alat yang menghalangi terlaksananya perbuatan yang rendah.

Orang yang memiliki sifat ini, semua anggotanya dan gerak-geriknya akan senantiasa terjaga dari hawa nafsu, karena setiap ia akan mengerjakan perbuatan yang rendah, ia tertegun, tertahan dan akhirnya tidak jadi, karena desakan malunya, takut mendapat nama yang buruk, takut menerima siksaan Allah SWT kelak di akhirat.

10) Al-Hilmu = Menahan diri dari berbuat ma’siat.

Memelihara diri dari berlaku ma’shiat adalah lebih mudah daripada merobah diri sesudah melakukan ma’shiat.

Hidup manusia dengan batas, batas itu adalah agama yang menggariskan mana yang boleh dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan.

Manusia dijadikan indah susunan anggota lainnya, kesempurnaan lahir itu hendaklah diikuti pula dengan kebersihan bathin, diantaranya menahan diri dari benlaku ma’shiat, baik ma’shiat dhahir maupun ma’shiat bathin, agar kesucian diri tetap terpelihara.

11) Al-Hukmu Bil ‘Adli = Menghukum secara adil.

Adil dalam setiap sikap artinya memberikan hak kepada yang mempunyainya, adil terhadap sesama manusia dalam perkatan maupun perbuatan.

Menegakkan keadilan harus tegas, berani, teguh dan konsekwen menjalankan kebenaran karena Allah semata-mata.

12) Al-Ikhaa-u = Menganggap bersaudara.

Setiap mukmin adalah bersaudara, karena itulah perbaikilah relasi antara sesama saudara, demikian tegas dalam Al-Qur’an menyatakan.

Firman Allah SWT :

Artinya :  “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q. S. Al-Hujurat : 10).

13) Al-Ihsaan = Berbuat baik.

Ihsaan ialah berbuat baik dalam kethaatan terhadap Allah SWT baik dari segi jumlah perbuatan, seperti mengerjakan yang sunnat misalnya memperbanyak sembahyang sunnat, puasa sunnat, atau dari segi kaifiat perbuatan, yaitu menyembah Allah – sembahlah Allah- seolah-olah engkau melihat DIA, apabila engkau tak dapat melihat-Nya, ketahuilah bahwasanya DIA melihat engkau.

14) Al-‘Ifaafah = Memelihara kesucian diri.

Menjaga diri dan tuhmah (tuduhan) juga menjaga diri dari berbuat dosa atau dari fitnah, jelasnya menjaga kehormatan, hendaklah dilakukan ditiap waktu, jangan menurutkan panggilan nafsu atau himbauan syahwat, karena manusia menguasai nafsu, sedangkan hewan dikuasai nafsu.

15) Al-Muruaah = Berbudi tinggi.

Sifat muruaah artinya berbudi tinggi, kesatria dalam membela yang benar, malu dan tidak puas bila maksud belum tercapai, ‘azam belum berhasil, padahal pekerjaan dan tujuan itu benar dan mulia sebagai suatu kewajiban dari Allah SWT.

16) An-Nadhaafah = Bersih.

Firman Allah SWT :

Artinya    :  “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, insya Allah dalam Keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.” (Q. S. Al-Fath : 27).

17) Ar-Rahmah = Belas kasih.

Manusia hendaknya mempunyai belas kasih terhadap yang lemah, yang kecil, yang faqir, yang miskin, yang tua. Orang yang kuat harus menyayangi yang lemah, yang besar menyayangi yang kecil yang kaya menyayangi yang faqir dan miskin, yang muda menghormati yang tua, pendek kata yang lebih menyayangi, menghormati, dan membantu yang kurang.

18) As-Sakhaa-u = Pemurah.

Pemurah ialah memberikan harta sebagai tambahan dari yang wajib dan ini adalah sifat yang baik, perangai yang terpuji.

Orang pemurah dikagumi, disenangi orang dan menimbulkan simpati serta pengaruh dan masyarakat, pengaruh yang datangnya dari sebab sifat pemurah, sukar sekali orang menentangnya.

19) As-Salaam = Kesentosaan.

Stabilitas rohani dan jasmani dengan menunaikan hak segala sesuatu, itulah kesentosaan hidup, kesentosaan bagi hidup di dunia dan di akhirat, sebab di dunia ia berjiwa tenang, tenteram dan damai, di akhirat ia menjadi ahli sorga dan Ridha – kepada Tuhannya – dan diridhai oleh Tuhan.

20) Ash-Shaalihaat = Beramal shalih.

Firman Allah SWT :

Artinya    :  ”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q. S. An-Nahl : 97).

21) Ash-Shabru = sabar.

Sabar di dalam beribadat melalui tiga stadia, yaitu :

Stadia Pertama :  Sabar sebelum beribadat, yaitu niat yang benar, ikhlas, tidak ingin dipuji orang.

Stadia Kedua :  Sabar ketika beramal, yaitu tidak lupa kepada Allah SWT, komplet adab dan kaifiatnya sejak awal sampai akhir.

Stadia Ketiga :  Sabar sesudah selesai beramal, yaitu tidak riyaa’, tidak ingin dipuji, menjauhi segala sesuatu yang akan rnenghapuskan amal.

22) Ash-Shidqatu = Benar atau Jujur.

Benar atau jujur ada1ah alat mencapai keselamatan, keberuntungan dan kebahagiaan.

Dengan jujur orang akan menempuh kehidupan dengan selamat, sahabat yang baik adalah kejujuran sebab ia berdaya membawa kita kepada kebahagiaan.

Karena itu wajiblah berikhtiar agar memiliki sifat jujur, jangan mencoba untuk berdusta, sebab jujur adalah suatu jalan menuju sorga, sedangkan dusta adalah suatu sebab menjerumuskan diri ke dalam neraka.

23) Asy-Syaja’ah = Berani.

Yang dinamakan benani adalah keteguhan hati dalam membela dan mempertahankan yang benar, tidak mundur karena dicela, tidak maju karena dipuji, jika ia salah ia terus terang dan tiada malu mengakui kesalahannya.

24) At-Ta’aawun = Bertolong-tolongan.

Bertolong-tolongan adalah ciri kehalusan budi, kesucian jiwa, ketinggian akhlaq dan membuahkan cinta antara teman, penuh solidaritas dan penguat persahabatan dan persaudaraan.

Bertolong-tolongan hendaklah dalam batas mengerjakan kebaikan, mencari kebajikan dan jangan memberikan pertolongan kepada perbuatan dosa.

Memberikan pertolongan janganlah karena sesuatu pengharapan tetapi berikanlah dengan ikhlas sebagai penunaian tugas kemanusian guna mencari keridhaan Tuhan.

Firman Allah SWT :

Artinya    :  ”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (Q. S. Al-Maidah : 2).

25) At-Tadharru’ = Merendahkan diri kepada Allah SWT.

Orang yang tadharru’, apabila disebut nama Allah SWT hatinya bergetar apabila mendengar ayat-ayat-Nya imannya bertambah dan kepada Allah SWT ia tawakkal, dikerjakannya segala awaamir dan dijauhinya segala nawaahi, khusyuu’ di kala sembahyang, tiada berpaling wajahnya dari sesama manusia dan ia tiada berjalan di muka bumi dengan sombong serta ia berkata dengan perlahan dan menarik, sadar dirinya sebagai makhluk, pandai mendudukkan diri sebagai hamba Allah di muka bumi.

26) At-Tawaadhu’ = Merendahkan diri terhadap sesama manusia.

Tawaadhu’ lawan dari takabbur adalah memelihara pergaulan dan hubungan dengan sesama manusia tanpa perasaan kelebiha diri dari orang lain serta tidak merendahkan orang lain, maksudnya memberikan setiap hak pada yang mempunyainya, tidak meninggikan diri dari derajat yang sewajarnya, tidak menurunkan pandangan terhadap orang lain dari tingkatnya, di mana tawaadhu’ menyebabkan diri memperoleh ketinggian dan kemuliaan.

27) Qana‘ah = Merasa cukup dengan apa yang ada.

Yang dikatakan kaya adalah kaya jiwa, bukanlah kaya harta dan yang dikatakan qana’ah itu adalah qana’ah hati, bukan qana’ah ikhtiar, jadi berusaha dengan cukup, bekerja dengan giat, sebab hidup berarti bekerja, jangan sekali-kali ragu menghadapi hidup.

Qana’ah adalah basis menghadapi hidup, menerbitkan kesungguhan hidup, menimbulkan energi kerja untuk mencari rezeki, jadi berikhtiar dan juga percaya akan taqdir yang diperoleh sebagai hasil.

28) ‘Izzatun Nafsi = Berjiwa kuat.

Dengan jiwa yang kuat manusia akan memperoleh kehormatan dan kemuliaan di dunia dan di akhirat, karena ia bekerja dengan mengenal kapasitas dirinya dan orang yang mengenal kapasitas dirinya dilimpahi rahmat Allah SWT.

‘Izzatun nafsi membuahkan kebajikan, sabar, tekun, ulet, tidak berputus asa, tidak bersikap apatis (acuh tak acuh), dihormati manusia, dianugerahi Allah SWT kebaikan.

BAB III

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Ilmu akhlaq adalah ilmu yang mempersoalkan baik buruknya amal. Amal terdiri dari perkataan, perbuatan atau kombinasi keduanya dari segi lahir dan batin. Tujuan mempelajari ilmu akhlaq adalah supaya dapat terbiasa melakukan yang baik, indah, mulia, terpuji, serta menghindari yang buruk, jelek, hina dan tercela.

Suatu perbuatan manusia dapat dikenai hukum akhlaq atau hukum baik dan buruk apa bila perbuatan tersebut dilakukan dengan sengaja dan disertai dengan niat si pelakunya.

Al-Akhlaqul Mahmudah adalah akhlaq-akhlaq yang terpuji, yaitu Al-Amanah, Al-Aliefah, Al-‘Afwu, Anie Satun, Al-Khairu, Al-Khusyuu’, Adh-Dhiyaafah, Al-Khufraan, Al-Hayaa-u, Al-Hilmu, Al-Hukmu Bil ‘Adli, Al-Ikhaa-u, Al-Ihsaan, Al-‘Ifaafah, Al-Muruaah, An-Nadhaafah, Ar-Rahmah, As-Sakhaa-u, As-Salaam, Ash-Shaalihaat, Ash-Shabru, Ash-Shidqatu, Asy-Syaja’ah, At-Ta’aawun, At-Tadharru’, At-Tawaadhu’, Qana‘ah, ‘Izzatun Nafsi.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Barmawie Umarie. Materia Akhlaak. C. V. Ramadhani. Yogyakarta. 1978.

Prof. Dr. Ahmad Amin. Ethika (Ilmu Akhlak). Bulan Bintang. Jakarta. 1977.


[1] Prof. Dr. Ahmad Amin. Ethika (Ilmu Akhlak). 1977. hlm 15.

[2] Ibid. hlm 136-137.